Tempelan kertas
di papan yang ada di dekat kaca rias ku hampir penuh, sepertinya aku
membutuhkan papan tempel lagi untuk menempel semua unek unek yang selama ini
aku tulis di sticky note. Hal kecil, tapi membuat ku sedikit lega. Setidaknya sedikit
kecemasan ku berkurang, ketika tidak ada orang yang mau peduli dengan apa yang
kurasakan.
“Aku bosan
Tuhan. Harus bersabar sampai kapan?” –Wens, 1 feb 2018-02-01-
Kertas kesekian
yang aku tempel hari ini. Dan mungkin keluhan yang sudah tidak terhitung lagi. Mungkin
menurut orang lain, aku adalah orang yang sering dan suka mengeluh. Tapi, ku
rasa itu hal yang wajar terjadi pada manusia. Setidaknya, aku mengeluh pada
kertas-kertas ku yang lebih memilih diam dan mendengarkan daripada kepada
banyak manusia di luar sana yang bergaya mendengarkan dan memberi saran akan
keluh kesahku, tapi sebenarnya mereka hanya sedang mengumpulkan bahan untuk di
gosipkan kepada manusia yang lainnya.
Ya, aku
sedang bosan dengan rutinitas ku sebagai salah satu karyawan di perusahaan export
impor perikanan. Karyawan baru yang sejatinya tidak terlalu memiliki peran
penting, yang kadang juga sebagai orang serabutan di kantor. Jika orang lain
bertanya aku sebagai apa disini, aku bisa menjawabnya dengan sebutan “Admin
Exim”. Tapi, apa yang aku kerjakan tidak sepenuhnya tugas seorang admin pada
umumnya. Kadang, aku bekerja membuatkan teh, kopi, menjadi orang yang selalu
dan harus siap untuk disuruh ke rumah depan atau rumah Bu Bos untuk mengambil
barangnya. Seringnya, aku menjadi kurir makanan untuk pegawai lainnya, tapi itu
tidak apa-apa karena hal itu bisa menjadi alasan untukku keluar dari kantor sejenak.
Menjadi
seseorang dengan karakter cepat bosan adalah hal yang sangat menyusahkan bagi
diriku sendiri. Aku tidak pernah bisa cocok dan bertahan lama pada sebuah
perusahaan, semuanya dengan alasan yang sama. Rasa bosan dan ada sedikit rasa
yang mengekang pada diriku, membuatku susah untuk menikmati pekerjaanku. Bukan aku
tidak bersyukur karena sudah mendapat pekerjaan yang lebih baik dari orang
diluar sana. Bahkan kadang aku sendiri tidak mengerti apa yang diinginkan oleh
hatiku dan diriku sendiri. Aku masih mencari jati diriku yang sebenarnya.
Yaaaah,
memikirkan itu semua membuatku semakin lelah dan ingin pergi jauh tanpa bisa
kembali lagi. Atau mungkin hilang ingatan dan menjadi anak polos lagi yang seperti
terlahir baru.
Jangan terlalu cepat menilaiku menjadi yang terburuk, karena kau
tidak akan tahu hal dibalik sampul yang gelap ini.
Welcome to Wen’s World.
Surabaya,
February 1st,
2018
11.57 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar