Aku sedang menatanya kembali. Sesuatu yang berantakan akibat ulah seseorang yang tak bertanggung jawab. Berani datang tanpa ijin, memasuki ruang itu dan membuat isinya berantakan. Lalu pergi meninggalkan begitu saja dengan jejak kakinya yang masih membekas. Seperti anak kecil saja dia itu~
Kau tau, aku sudah benar-benar menjaga tempat itu supaya jika ada orang yang tepat tiba-tiba datang dia akan merasa nyaman dan tak ingin pulang.
Aku benar-benar telah merapikannya sedemikian mungkin supaya ketika aku bertemu dengan seseorang dia bisa masuk tanpa mau keluar lagi karena nyaman.
Aku telah menjaga tempat itu dengan tidak mengotorinya dengan masalah-masalahku. Sehingga saat ada Pangeran datang, tempat itu bisa seperti istana baginya.
Tapi apa yang dia lakukan? Dia berani sekali merusak tempatku!
Ya, beberapa orang menyebutnya "Hati"
Kau tau apa maksud ceritaku tadi?
Jika masih belum paham, aku akan menjelaskannya padamu. Ikuti saja dongeng ini, jika kau sudah mulai mengantuk pergilah tidur. Supaya cerita ini tidak ada dalam mimpimu.
Waktu itu dia datang. Dia mengetuk pintu, ya pintu hatiku maksudnya. Dan mengucapkan sejuta salam manis padaku, yang membuatku ingin membukakan pintu baginya. Aku hanya membuka sedikit celah baginya, karena kurasa dia hanya sekedar menyapaku tanpa ada keinginan untuk masuk kedalam.
Kami mengobrol di depan pintu (re:aku masih bisa menutup pintu hatiku) tanpa mempersilahkan dia masuk. Semakin lama obrolan kami semakin seru, hingga tanpa sadar aku mulai mengijinkan dia masuk ke dalam. Ya, sepertinya aku mulai tertarik padanya. Kurasa dia membawa obat wewangian untuk bisa menarik perhatianku sehingga aku mabuk dibuatnya. Dan benar saja, dia berhasil masuk karena aku sendiri mempersilahkan dia masuk. Jujur ku akui, aku menyukainya.
Seketika aku sadar, kalau dia tidak bisa bersamaku. Tujuan dia adalag bukan pintuku. Ya, bukan hatiku. Dia dan aku berbeda, kami tak bisa bersama karena perbedaan ini. Kau tau apa maksudku? Kami berbeda tujuan(re:beda agama). Semua orang diluar meneriakiku supaya dia bisa keluar dari tempatku, tapi seakan aku seperti mengabaikan mereka, aku tetap saja ada bersama dengan dia didalam, hatiku.
Apa yang dia lakukan didalam sana? Ya,didalam hatiku maksudnya. Dia seperti membawaku keluar dari tempat itu, turun melalui lambung dan membuatku seperti terbang dan mengalir seperti derasnya darah manusia yang mengalir. Aku sungguh bahagia~
Waktu yang singkat untuk bisa membawaku mengelilingi organ-organ tubuhku sendiri.
Hingga pada akhirnya, aku yakin ini tak akan bisa bertahan lama. Lambat laun, kami juga akan berpisah. Dan dia akan pergi. Benar saja, saat aku sudah benar-benar nyaman dan bahkan tidak memperdulikan omongan orang diluar sana, disaat itulah aku seperti benar-benar terkena tamparan orang banyak. Dengan cepatnya dia keluar dan sejurus kemudia dia menghilang. Aku sendiri pun tak tau jika dia benar-benar pergi dan mungkin tak akan kembali. Karena ku rasa, dia tidak keluar melalui pintu yang sama dan tidak mengucapkan salam perpisahan.
Aku mencarinya ke sekeliling tempat hatiku dan organ-organ sekitarnya. Dia tidak ada. Aku sendiri. Aku merindunya. Tapi dia tidak datang.
Aku berdiri didepan pintu itu lagi, mencoba melihat siapa tau dia datang kembali. Tetapi tidak, aku duduk sendiri. Kesepian. Dan dihantam ombak darah yang terus mengalir membawaku entah kemana. Aku hampir gila dibuatnya. Sungguh, aku merasa ini bukan diriku sendiri. Tapi ini hatiku masih sama bentuknya, hanya isinya yang telah porak poranda. Aku tersesat. Untunglah aku masih bertemu sahabatku yang mau membawaku pulang kembali.
Aku terkejut, aku hampir tidak mengenali tempat itu. Ya, hatiku sendiri. Aku tidak tau jika tempat yang selama ini ku jaga dengan baik, pada akhirnya harus hancur luluh lantah karena perbuatan seseorang yang jahat dan tak berperi kemanusiaan.
Tapi aku harus membuat tempat ini kembali cantik seperti semula. Aku mulai membenahi diri. Ku kosongkan pikiranku untuk tidak mengingatnya kembali. Ku rasa, aku sedikit berhasil. Pelan-pelan kucoba merapikan beberapa benda yang berserakan dan membuangnya ke tempat pembuangan abadi. Ya, benda itu adalah kenangan. Aku membuangnya karena setiap kali aku melihatnya(re:mengingatnya) aku merasa sesak.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku menata kembali tempat itu. Aku menata hatiku. Merapikannya dan membersihkannya sebaik mungkin. Sebenarnya aku tidak sanggup melakukan ini sendiri, kekuatanku telah habis dan aku nyaris tak berdaya. Tapi ini tempatku, ada hati yang harus ku jaga agar tak berantakan seperti yang lalu. Aku harus bisa, dan aku pasti bisa mengembalikannya seperti semula.
Memang tidak mudah dan tidak bisa secepat yang diharapkan. Karena badai masih akan datang dan menjatuhkan beberapa barang yang sudah ku tata secara rapi. Ya, kadang dia datang lagi. Tapi aku tau, aku tidak sebodoh yang lalu. Aku hanya menjawabnya dari balik pintu tanpa mau membukakannya lagi baginya.
Sesekali dia datang dan menyapa, tapi aku biasa saja. Karena aku tau dia masih sama jahatnya seperti dulu.
Merapikan tempat ini memang tidak mudah. Tapi jika aku benar-benar ingin tempat ini kembali, maka aku harus bisa!
Perlahan-lahan aku mulai membersihkan kembali, menata dan merapikannya kembali. Bahkan jika mungkin, akan ku beri wewangian untuk tempatku sendiri. Aku sudah berbenah. Setidaknya, tempat ini sudah mulai terlihat sama seperti yang dulu. Atau bahkan lebih bagus dan lebih terlihat menarik daripada yang lalu. Ya, hatiku kembali pulih. Aku berhasil menatanya kembali dan membuatnya lebih indah untuk kusiapkan pada orang yang tepat.
Aku berhasil.
Sekarang tempat, atau lebih baik langsung ku sebut saja sebagai Hati. Hati ini akan ku jaga lebih baik dan lebih waspada dari sebelumnya. Jika dulu aku bisa tertipu dengan serigala yang menyamar sebagai pangeran, maka aku akan lebih pintar untuk membedakan mana hujan deras dan mana angin yang hanya bertiup kencang tapi hanya lewat tanpa membawa hujan.
Aku tersenyum bangga. Karena aku bisa melewati badai yang menhancurkan hatiku, tapi aku bisa membangunnya kembali.
Yakinlah, kau pasti juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, jika kau bisa melewati itu semua dan bangkit kembali, maka kau akan menjadi pemenangnya!
Aku percaya, jika orang baik akan bertemu dan berjodoh pada orang yang baik pula. Lain hal dengan orang jahat, dia akan mendapat apa yang sudah dia kerjakan pada orang lain.
Wen.
Sidoarjo, 22 Maret 2016
09:56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar