Angin yang berhembus kencang ini telah membawa semilyar rinduku padanya. Tapi, aku resah. Kemana angin ini akan pergi? Aku takut jika ia salah tujuan.
Telah ku sampaikan padanya jika aku menitipkan sebuah pesan untukmu. Pesan yang tidak ku tulis dengan tangan, melainkan pesan yang ditulis secara otomatis oleh hati,ku.
"Dear you,
Akhir-akhir ini pikiranku sedang kacau, seakan aku kehilangan protein dan nutrisi untuk mengembangkan kemampuan berpikirku. Tapi ku rasa tidak, mungkin hanya mood-ku yang susah untuk ku kendalikan. Kadang aku merasakan kesedihan yang teramat dalam yang bukan tanpa suatu hal, aku sendiri tidak tau apa di balik semua kesedihanku ini. Aku hampir mirip seperti orang gila yang kehilangan akal sehatku. Semua yang terjadi akhir-akhir ini membuatku patah semangat dan mengakhiri semuanya.
Sampai tiba-tiba otakku berputar dan menemukan namamu. Ya, ku rasa saat ini aku merindukanmu. Aku ingin berbagi banyak cerita kepadamu. Aku ingin mencurahkan semua beban yang terjadi saat ini hanya padamu. Entah mengapa aku sangat yakin jika hanya kau yang paling mengerti masalahku ini. Tapi, kau dimana?
Aku tidak mendapat kabar apa-apa darimu. Bahkan satu-satunya media sosial yang ku punya tentangmu juga tidak menuliskan statusmu.
Kau apa kabar? Aku merindukanmu dan membutuhkanmu~
Aku menguatkan diri sebaik mungkin hingga saat kau datang dan aku bisa menyandarkannya padamu. Tapi hingga kini, kau pun tak kunjung datang.
Kau kemana? Aku merindukanmu dan membutuhkanmu~
Mungkin kau sedang sibuk dengan pendaftaran kuliah barumu yang akan mulai tahun ini. Tapi se-be-gi-tu si-buk-nya-kah kau hingga tak bisa memberi kabar padaku sebentar saja? Aku mencoba mrnghibur diri.
Kau sedang apa? Aku merindukanmu dan membutuhkanmu~
Aku cemas memikirkanmu, apa yang terjadi padamu? Ku harap kau baik-baik saja. Jika kau sudah merasa baikan, segera temuiku. Paling tidak kau bisa menuliskan statusmu pada media sosial.
Apa pesan ini telah mendarat tepat padamu? Jika kau telah menerimanya, kabari aku secepatnya."
Pesan itu tertulis tanpa disertai pikiran. Hatiku sudah pintar, sehingga menulis pesan pun ia tidak berkompromi dahulu dengan otakku.
Kini, angin itu telah pergi. Ia telah membawa semilyar rasa rindu yang tak(belum) tersampaikan ini. Ku harap setelah angin itu tiba padamu, kau langsung menyuruhnya pergi. Karena kau yang akan langsung membalasnya padaku, bukan melalui angin~
I miss you, Vin.
Sinc,
- Wen, July 14th 2015-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar