Senin, 16 September 2013

Mungkinkah Kamu?

Sore itu hujan turun dengan lebatnya membasahi hampir seluruh daerah di Bandung, seakan membalaskan dendamnya yang sudah sekitar 3 hari tidak turun hujan. Seorang cewek berseragam SMA terlihat sangat cemas seperti sedang menunggu seseorang untuk datang menjemputnya dibawah halte dekat sekolahnya. “Duh.. Kak Reno mana sih, ditungguin dari tadi nggak dateng-dateng” gerutu cewek itu dengan muka kesal. Sepertinya sudah hampir satu jam ia disana menunggu seseorang yang dinantinya datang menjemputnya, tapi orang yang diharapkannya tidak kunjung datang. Dari jauh sebuah motor merapatkan jalurnya ke arah kiri hendak berhenti di tempat cewek itu berteduh dan tentunya menunggu seseorang.
“Ve, belum pulang?” sapa seorang cowok berseragam putih abu-abu yang turun dari motor untuk berteduh di halte tempat cewek itu menunggu. “masih nungguin kakak. Sori siapa? Kok tau namaku?” jawab cewek itu dengan sedikit menolehkan wajahnya ke arah cowok itu. “eh iya, kenalin aku Kelvin Jonatan Saputra, kelas 12 IPA 1. Ya taulah, kamu Velizya anak baru di kelas 11 IPS 2 yang dari Jakarta itu kan?” Tanya cowok tersebut dengan senyuman manis dan tentu saja sopan sambil mengulurkan tangannya. Cewek bernama Veli itupun membalas uluran tangan cowok tersebut dengan sedikit tersenyum. “Iya, kok tau sih? Jadi, aku harus panggil kamu siapa?”. “ Siapa juga yang nggak tau kamu, satu sekolah juga uda tau kamu kali. Panggil aja kelvin” jawab cowok tersebut dengan sedikit terkekeh dan mengeluarkan senyum termanisnya. Ve bingung keheranan, bagaimana bisa siswi baru seperti dia bisa langsung terkenal? Entahlah, yang jelas Ve tidak mau memikirkannya sekarang. Ia masih fokus menunggu orang yang dari tadi ia tunggu.
***
Tiba dirumah, Ve langsung masuk kamar tanpa menjawab sapaan dari mamanya yang sedari tadi menunggu anaknya pulang. Ve kesal dengan kakaknya yang sudah telat menjemputnya di hari pertama ia sekolah, yang membuatnya baru tiba dirumah pukul 16.30. Padahal sekolah sudah mengijinkan seluruh siswanya untuk pulang pukul 14.00
Malam itu juga Ve tidak ikut makan malam bersama keluarganya seperti biasa. Sepertinya ia sangat kelelahan dengan hari pertamanya bersekolah disekolah baru yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya dan tentu juga karena menunggu kakaknya. Ia bahkan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat agar tidak ada orang masuk dan mengajaknya untuk turun sekedar berkumpul bersama keluarganya. Ve merenung seorang diri sambil melihat diary-nya yang berisi foto dan catatan kejadian dimana ia masih bersama sahabat-sahabatnya disekolahnya yang lama. Ia mengingat kembali semua kenangan di sekolah tercintanya dulu bersama sahabat dan teman terbaik yang ia punya. Seakan semua kenangan itu bermain seperti sinetron yang tidak ada hentinya untuk di putar. “ Aku kangen kalian semua. Aku nggak mau disini” suara Ve terdengar lirih saat ia membuka halaman yang berisi fotonya bersama semua teman kelasnya dan wali kelasnya saat berada di Pulau Bali. Tak terasa juga air matanya mulai menetes membasahi pipinya. “Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah. Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa dirimu” Ve menyanyikan sebait lagu yang ada dalam diary-nya. Air matanya semakin menjadi-jadi. Bagaimana tidak, bayangkan saja baru setahun ia melanjutkan sekolahnya di tingkat atas bersama sahabat dan temannya dari SMP di Jakarta, ia harus pindah ke Bandung untuk mengikuti ayahnya yang pindah tempat kerja demi kemajuan karir ayahnya. Ia benar-benar tidak rela untuk pindah, tapi apa yang bisa ia perbuat? Hanya menurut saja.
***
“Hai Veli selamat pagi” sapaan Clara membuyarkan lamunan Ve yang sejak ia datang dikelas langsung melamun begitu saja. “Eh hai, iya selamat pagi Clara” Ve menjawab sapaan teman sebangkunya itu dengan seyuman yang dipaksakan. “Jadi bagaimana?”pertanyaan Clara membuat Ve bingung. “Apanya yang bagaimana?”
“Bagaimana rasanya sekolah disini? Kamu sudah betah atau merasa aneh ?”
“Oh itu, iyaa rasanya masih belum enjoy aja. Maklum lah kan baru kemarin aku masuk”
“Kalau di banding sekolah kamu yang dulu, bagus mana?” pertanyaan Clara yang ini membuat ia tercengang dan kembali teringat akan sekolahnya yang dulu. Sesaat ia diam dan kemudian disadarkan oleh Clara. “Hei, kamu kenapa vel? Ada yang salah sama pertanyaanku?” tanya Clara bingung. “eh enggak kok ra, nggak papa” jawab Ve gugup. “Iya, jadi gimana? Sekolah kamu yang dulu sama yang ini bagus mana?” kembali Clara menanyakan pertanyaan itu lagi, tapi saat itu Ve sedang beruntung tiba-tiba guru yang akan mengajarnya datang dan tentu saja ia tidak sempat menjawab pertanyaan Clara.
Bel istirahat berbunyi, dengan berat hati Veli mengikuti Clara yang sebelum bel istirahat berbunyi sudah mengajaknya untuk ke kantin bersama. Dengan langkah malas ia berjalan di samping Clara, dan entah kenapa setiap ia berjalan banyak mata yang melihatnya seperti orang yang ingin berkenalan dengan dia. “Hai veli, kenalan dong aku Valdo anak 12 IPS 2” tiba-tiba seorang kakak kelas berdiri di depan Veli dan mengajaknya berkenalan. Veli semakin bingung dengan semua anak di sekolah barunya itu. Tapi, sebelum Veli menjawabnya Clara langsung menggandeng tangannya dan menariknya untuk terus berjalan ke kantin. “Sori ya kak, Veli-nya uda lapar dia mau makan dulu. Permisi” Veli hanya pasrah dan mengikuti Clara.
“Ve,mau pesen apa?”Tanya Clara lembut. “Es teh aja ra”jawab Ve. “Yakin cuman itu aja?kita kan pulang siang banget, nggak laper?”. “Enggak ra, uda biasa kok” jawab Ve lagi yang kali ini disertai dengan senyum manisnya. Ve nampak tidak antusias saat berada dikantin, ia hanya diam sambil memainkan sedotan es tehnya dan tentu saja menunggu Clara makan. Terlihat mukanya yang lesu dan malas seperti sedang mendapatkan paksaan. ‘kalo nggak di paksa sama Clara juga aku gabakalan mau’ batin Ve dalam hati. Bel sekolah kembali berbunyi yang seakan menghentikan kebahagiaan para siswa untuk beristirahat sejenak dari jenuhnya pelajaran. Termasuk Ve dan Clara yang akhirnya masuk ke kelas mereka untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
***
Hari ini adalah hari ketujuh Veli bersekolah disekolah barunya. Ia masih tetap pendiam dan tidak bersemangat untuk bersekolah. Banyak teman sekelas dan hampir satu sekolah mulai membicarakan dia karna sikapnya yang aneh. Tapi Ve hanya diam dan cuek, ia tidak pernah mau membagi tentang apa yang ia rasakan saat ini dan yang dinilai aneh oleh semua temannya.
Kelvin kakak kelasnya yang pertama kali ia temui mulai mengamati sikap Ve dari hari pertama, karena dari awal Kelvin tau kalau Ve sangat terpaksa untuk bersekolah disini. Bahkan ketika Ve berada di perpustakaan untuk menemani Clara pun diam-diam Kelvin mengamati gerak-geriknya. “Bener. Anak itu keliatan terpaksa banget buat sekolah disini” kata Kelvin pelan saat salah satu aksinya menjadi mata-mata dilakukan.
***
Sabtu ini, Ve sudah berencana untuk menelepon sahabatnya yang ada di Jakarta sepulang sekolah nanti di taman belakang sekolah yang terkesan sangat sepi. Ve sudah tidak tahan dengan ini semua, ia sudah sangat rindu kepada semua sahabat dan temannya di jakarta. Dan tak lain tujuannya ia telpon juga untuk mencurahkan apa yang ia rasakan tentang sekolah barunya yang 180 derajat berbeda dengan sekolah mewahnya di Jakarta dulu.
“Sepi banget ini taman. Beneran kayak kuburan, padahal taman ini lumayan bagus meskipun masi tetep bagusan Taman di sekolah dulu” kata Ve sendirian yang mulai mengambil tempat dimana ia bisa berbicara tanpa di dengar oleh orang lain. Taman itu memang bagus, hanya ada 2 pasang bangku yang saling berjauhan dengan pemandangan bunga yang berjajar dengan sangat cantik berneka macam dan warna.
“Halo Ara?”percakapan Ve dimulai saat teleponnya di jawab oleh sahabatnya yang berada di Jakarta.
“Hai Veeee, apa kabar kamuu?Miss youu soooo baby” teriak sahabatnya dari seberang telepon.
“Araaa miss youu moree beb. Like you know, i’m so bad here”
“Iya aku tauu. Kamu sabar ya sayaang, cerita deh gimana sekolahmu disana”
“jelas banget disini 360 derajat berbeda jauh dengan di Jakarta. Banyangin deh, gedung sekolahnya aja uda kusam. Kamar mandinya apa lagi duuh najong deh liatnya”
“duuuh kasiaan turut berduka cita ya Ve. Terus temen kamu disana gimana?”
“apalagi itu. Beneran deh ya, disini tuh nggak ada temen segokil kalian. Masa baru pertama sekolah mereka uda sok deket gitu deh sama aku, terus yang cowok juga genit banget. Pokoknya ilfil banget deh” akhirnya Ve bisa melepaskan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini. Ara sahabatnya hanya bisa mendengarkan Ve berceloteh ria, ia tau apa yang menjadi beban sahabatnya itu saat ia harus dipaksa untuk bersekolah yang kualitasnya lebih rendah daripada sekolah sebelumnya.
“Aku beneran nggak kuat Ra kalo harus gini terus. Aku nggak bisa sekolah karna terpaksa kayak gini, mending aku home schooling aja deh” Kata Ve penuh emosi yang hampir membuatnya nangis.
“Udahlah Ve, terima aja keputusan orang tuamu. Mereka pasti ingin yang terbaik buat anaknya, nikmati aja dulu. Toh disana nggak semuanya buruk kan?” jawab Ara menenangkan Ve.
“Apa lagi Ra? Aku uda terlalu sabar, aku uda nggak kuat beneran deh Ra. Culik aku aja deh Ra, bawa aku balik ke Jakarta. Aku nggak mau disini” Ve nggak kuat menahan air matanya yang akhirnya meluncur membasahi pipinya.
Tanpa disadari, seseorang sedang mengamati dan mendengarkan percakapan Ve mulai dari awal sejak ia berada di taman. Kelvin. Ia membuntuti Ve yang sejak pulang sekolah tadi Ve tidak langsung pulang. Kelvin sangat jelas tau atas apa yang di bicarakan Ve ditelepon, ia merasa bahwa Ve sudah menjelekkan nama baik sekolahnya. Kelvin sangat tidak terima atas perkataan Ve di telepon, segera dengan keberaniannya ia mengahampiri Ve yang masih sesenggukkan menangis. Ve yang kaget akan kedatangan Kelvin, langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada sahabatnya di Jakarta.
“Sejak kapan jadi penguntit?” Sindir Ve yang masih memandangi handphone-nya.
“Sejak pertama kali ada anak baru dari Jakarta yang songong dan sombong” Jawab Kelvin tanpa berbasa-basi. Ve kaget dan langsung menoleh ke arah Kelvin.
“Maksud kamu?”
“Berlagak sok bego lagi. Udahlah jujur aja, kalo kamu terpaksa sekolah disini mending kamu pindah aja deh” perkataan Kelvin kali ini sangat membuat Ve sakit hati dan rasanya ingin menangis, tapi ia harus menahannya karena gengsi.
“Dari dulu juga sebenernya nggak mau sekolah disini. Papa aja yang maksa sekolah disini. Kenapa sih sewot aja”
“Yaiyalah. Secara sekolah ini tu sekolah paling favorit di daerah sini, pake bilang kualitasnya rendahan lagi. Emang kamu siapa?” emosi Kelvin mulai memuncak.
“Apasih kamu kak, biasa aja bisa kali ngomongnya. Lagian kalo emang aku nggak suka sekolah disini masalah buat kak Kelvin? Masalah juga buat masa depannya Kak Kelvin? Enggak kan”  Ve juga ikutan emosi, tapi kali ini Kelvin mulai mengalah dan menenangkan diri.
“Asal kamu tau aja Ve, sesuatu yang di lakuin dengan cara terpaksa itu akan membuat keadaan sekitar semakin rumit. Kamu nggak akan tau apa maksud dari semua persoalan yang terjadi”
“Kok jadi ceramah sih” Ve sinis tanpa melihat wajah Kelvin, tapi Kelvin hanya menggelengkan kepala dan mencoba sabar untuk menasihati Ve atas sikapnya selama ini.
“Terima apa yang sudah terjadi. Orang tuamu sudah mencarikan yang terbaik untuk kamu, tinggal kamu aja yang harus menjalaninya dengan ikhlas dan tentu saja jangan kecewekan mereka. Semua yang kamu inginkan nggak mungkin dan nggak harus bisa terpenuhi kan?”
“Sotoy. Orang tuaku bisa kasih semua yang aku mau?”
“Kalau gitu kenapa kamu masih sekolah disini?” pertanyaan Kelvin yang satu ini seketika membungkam mulut Ve yang tidak tau harus menjawab apa.
“Udahlah, sekolah ini nggak seburuk yang kamu kira kok. Cuman gimana cara kamu ngejalaninnya aja. Yang lalu biarlah berlalu menjadi kenangan dan pelajaran. Hidup ini terus berjalan, kita nggak bisa nge-stuck disini dan selalu melihat masa lalu tanpa membuat kemajuan dimasa sekarang” Kali ini perkataan Kelvin membuat Ve menatap mukanya dan membuat mereka saling beradu pandang dengan tatapan mata yang lekat dan dalam.
“Kalau kamu gini terus, bagaimana dengan masa depanmu? Mulailah merubah sikap menjadi kamu yang dulu bersemangat saat bersekolah di Jakarta. Lagian temen disini juga nggak kalah seru kok” timpal Kelvin sambil mengeluarkan senyum manisnya yang selalu membuat cewek meleleh termasuk Ve yang sedari tadi menatap wajahnya.
Kelvin berlalu meninggalkan Ve yang masih tetap terpaku ditempat. Ve merasakan ada sesuatu yang sedang menahan kakinya ssehingga ia merasa susah untuk beranjak pergi. Ia masih memikirkan semua perkataan Kelvin, sampai handphone-nya berbunyi pertanda sms masuk yang ternyata dari Kak Reno, kalau kakaknya sudah menunggunya dari tadi di depan sekolah.
***
Minggu pagi yang cerah. Ve berniat pergi ke toko buku pagi itu untuk membeli novel yang sudah sejak lama ia inginkan. Semenjak kejadian sabtu kemarin di taman pulang sekolah, Ve semakin pendiam. Ia masih memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Kelvin, meskipun tak semua kalimatnya ia hafal. Tapi ia tau persis apa maksud Kelvin berbicara seperti itu. Kelvin hanya ingin Ve merubah sikapnya yang selama ini terlalu meremehkan sekolah barunya dan selalu membandingkan dengan sekolah lamanya. “terus aku harus ngapain dong?” Ve berbicara sendiri saat membawa mobilnya keluar rumah menuju gramedia yang ada di kota. “Masa aku harus minta maaf sama temen-temen? Yang bener aja sih, malu kali” Ve semakin nggak karuan, pikirannya seolah di hantui oleh perkataan Kelvin kemarin. Sampai akhirnya ia tiba di Gramedia dan seakan ia lupa akan pikirannya tadi karena terlalu asyik mencari novel.
‘BRAKKK....’ terdengar suara buku yang terjatuh dari tangan seorang pria yang membawa banyak buku ditangannya, sehingga ia susah untuk mengendalikan tubuhnya yang akhirnya ia tidak sengaja menjatuhkan bukunya. Ve yang lagi asyik membaca sinopsis novel langsung terkaget dan menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan entah apa yang ia pikirkan bak malaikat, Ve langsung berlari menghampiri pria tersebut dan menolongnya. “Lain kali hati-hati ya mas, atau kalau perlu bantuan kan bisa minta tolong pegawai disini” kata Ve menengadahkan mukanya kepada pemilik buku itu sambil menyerahkan buku terakhir yang terjatuh, dan seketika ia kaget saat ia tau siapa pemilik buku itu. “Kak Kelv...” kata Ve pelan. “Ve? Ngapain disini?” Kelvin menjawab dengan penuh kebingungan. “lagi cari novel. Ini kak bukunya, lain kali hati-hati ya” jawab Ve gugup sambil mencoba berlalu dari hadapan Kelvin, karena entah mengapa ia merasa malu saat bertemu Kelvin.
“Ve, tunggu...” cegah Kelvin sambil menarik tangan Ve yang hendak pergi.
“Eh, kenapa kak? Itu bukunya uda aku kembaliin kan?” Ve semakin gugup dan bingung kala tangannya di pegang oleh Kelvin.
“Iya sudah kok, makasih ya. Eh sori yaa” jawab Kelvin dengan senyum sambil melepaskan tangannya yang masih menggandeng tangan Ve.
“Oke, sama-sama kak. Sori aku pergi dulu”
“Eh Ve tunggu dong. Kamu mau bayar novel kamu kan?”
“Emm, iya kak. Kenapa?”
“Yaudah bareng aja yuuk” ajak Kelvin ramah, yang seakan membuat Ve seperti tersambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa Kelvin yang kemarin membentaknya di taman dan nyaris membuat ia mati berdiri, sekarang tanpa sengaja bertemu dengannya dan dengan perasaan yang malu tiba-tiba mengajaknya untuk membayar bersama di kasir dengan ramahnya seperti tidak ada masalah yang pernah terjadi diantara mereka.
“Tapi kak....”
“Sudah yuuk, uda berat ini bukunya” Tanpa berbasa-basi Kelvin langsung mengajak Ve ke kasir, dan lagi-lagi Ve menurut saja.
***
“Sekarang aku nggak tau mau ngapain kak, aku bener-bener bingung”
“Yaudah, pelan-pelan kamu harus merubah sikap kamu terhadap temen-temen kamu. Ntar mereka pasti ngerti kok......”
Setelah membayar buku mereka masing-masing, Kelvin mengajak Ve untuk beristirahat sejenak di cafe sebelah gramedia itu. Mereka berbincang satu sama lain, yang akhirnya membuat Ve sadar dan mau merubah sikapnya selama ini yang telah membuat orang lain menilai jelek terhadap dirinya. Bahkan sebagai tanda ucapan terima kasih, Ve mau mengantarkan Kelvin pulang dengan mobilnya dan mentraktir semua makanan yang telah mereka pesan. “Makasih banget ya kak, gara-gara kak Kelvin aku jadi tau apa artinya hidup ini” kata Ve saat mobilnya mulai keluar dari tempat parkir gramedia. “Sama-sama Ve, aku juga seneng bisa ngebantu kamu membuka pikiran kamu selama ini. Makasih juga uda mau repot nganterin plus bayarin makanan tadi, hehe” jawab Kelvin malu sambil terkekeh.
Mobil Ve melaju dengan kecepatan normal, sampai akhirnya ia berhenti di rumah sederhana berpagar coklat tapi terkesan mewah karena desain rumahnya yang unik. “Rumah kak Kelvin bagus yah, sederhana tapi kelihatan mewah karena desainnya yang keren” Puji Ve, saat ia keluar dari mobilnya dan memandang rumah Kelvin dari luar. Kelvin tersipu malu akan pujian Ve.
“haha biasa aja kok Ve, kamu aja yang lebay”.
“Serius kak, ini desainnya keren banget” puji Ve lagi, yang membuat Kelvin semakin salah tingkah karena pujiannya.
 “Yaudah deh, kamu mau masuk dulu?” tawar Kelvin kepada Ve yang masih terpesona melihat rumah Kelvin. “Emm, makasih deh kak. Tapi lain kali aja yah, soalnya mama uda nungguin dirumah” jawab Ve menolak ajakan Kelvin.
“Oh, oke lain waktu bisa kan?”
“Diusahakan deh. Sampai ketemu besok di sekolah ya kak, byeeee” seru Ve sambil berlalu masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
***
Sudah hampir sebulan semenjak kejadian sabtu dan minggu itu. Ve mulai berubah sikapnya dan tentu saja banyak siswa dan guru yang menyukai perubahan itu, terutama Kelvin yang masih menjadi mata-mata untuk mengamati perubahan Ve yang semakin hari semakin bertambah baik. Hingga pada jam pulang sekolah ia mendapat sesuatu dari Clara.
“Ve, ini tadi ada titipan surat” kata Clara saat mereka akan keluar dari kelas.
“Jaman gini masi ada surat?haha.. dari siapa emang?” jawab Ve, sambil menerima surat tersebut. “Baca sendiri deh, ntar juga tau haha” Clara sedikit tertawa sambil berlalu meninggalkan Ve, tapi ia kembali lagi dan membisikkan sesuatu di telinga Ve.
“Oh iya, kalau uda jadian traktir makan sepuasnya di kantin” bisik Clara tepat disamping telinga Ve, membuat Ve semakin bingung dengan ini semua. Tapi clara membiarkan temannya kebingungan dan meninggalkan begitu saja. Ve diam di depan kelas yang sudah sepi itu sambil mulai membuka surat itu dan membacanya.

Perubahan yang luar biasa. Aku kagum dan salut banget karena ternyata kamu mau mendengarkan nasihatku dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Lihat keadaan sekarang, tak seburuk yang kamu pikirkan saat itu kan? Bahkan lebih baik dari yang kamu kira. Jadi, bagaimana dengan kehidupanmu yang dulu selalu kamu banggakan dan bandingkan dengan keadaan saat kamu pindah disini? I think now is better than past, right?:)
Nb:: segera bales surat ini saat kamu uda selesai baca. Aku tunggu sepulang sekolah di taman belakang. Okey? SEGERA!!

Kelvin-

“Ha?Kak Kelvin? Sepulang sekolah? Sekarang dong.” Ve kaget tidak percaya kalau Kelvin yang mengiriminya surat, dan ia harus segera membalasnya karena Kelvin sudah menunggunya. Segera ia mengeluarkan alat tulisnya dan selembar kertas, dengan cepat ia membalas surat itu dan melipat rapi karena ia tidak mempunyai amplop yang bisa membungkusnya. Benar saja, di taman itu Kelvin sudah duduk dengan santai sambil membaca komik yang baru ia pinjam dari temannya.
Ve segera menghampiri dan memberikan surat yang sudah ia tulis itu tanpa berbicara sepatah kata pun, hanya senyum manisnya yang ia pancarkan. Kelvin menerima surat itu dan membalasnya dengan senyuman juga. Mereka tak ubahnya Pangeran dan Cinderella yang baru pertama ketemu, malu. Ve tersipu malu dan berlalu setelah memberikan surat itu, Kelvin hanya diam dan tau apa maksud ini semua. Kelvin juga membiarkan Ve pergi begitu saja. Setelah Ve pergi meninggalkannya, dan hanya ada ia sendiri di taman itu Kelvin langsung membaca surat itu dengan antusias dan rasa penasaran.

Thank’s a lot for all Kak Kelv. Aku nggak tau kelanjutan hidupku kalau aku masih sama seperti waktu pertama pindah disini, mungkin aku nggak akan bisa menjadi leader dari tim cheerleader seperti sekarang ini. Dan mungkin selamanya aku nggak akan bisa ngobrol dengan kakak. Makasih uda mau repot menyadarkan aku dari semua ini.
Kalau saja aku masih memutuskan untuk menjadi aku yang dulu, selamanya aku akan terjebak dalam kesalahanku sendiri. Bertemu dengan kak Kelvin membuatku tau apa arti kehidupan. Semua drama kehidupan yang membuatku tau bahwa kita nggak bisa melangkah dengan keadaan terpaksa, bahkan dengan terpaksa malah membuat keadaan semakin kacau.
 I’m very proud of you kak Kelv. I don’t know what should i say anymore , just thank’s and thaaaaank youuuu so mucch for all this time J
Nb:: kapan-kapan jalan bareng lagi bisa dong? Tanggal 17 bulan ini ada pameran buku murah lhoo :D tertarik untuk join? Segera hubungi nomer ini J 089677612417

Velizya Sekar Angelina-


Kelvin tersenyum membaca surat dari Ve yang ditulis dengan tulisan tangan yang sedikit nggak karuan karena tergesa-gesa. “Nama yang bagus untuk cewek secantik Ve, siapa juga yang bisa nolak ajakannya”


-TAMAT-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar