Sore itu hujan turun dengan lebatnya
membasahi hampir seluruh daerah di Bandung, seakan membalaskan dendamnya yang
sudah sekitar 3 hari tidak turun hujan. Seorang cewek berseragam SMA terlihat
sangat cemas seperti sedang menunggu seseorang untuk datang menjemputnya
dibawah halte dekat sekolahnya. “Duh.. Kak Reno mana sih, ditungguin dari tadi
nggak dateng-dateng” gerutu cewek itu dengan muka kesal. Sepertinya sudah
hampir satu jam ia disana menunggu seseorang yang dinantinya datang
menjemputnya, tapi orang yang diharapkannya tidak kunjung datang. Dari jauh
sebuah motor merapatkan jalurnya ke arah kiri hendak berhenti di tempat cewek
itu berteduh dan tentunya menunggu seseorang.
“Ve, belum pulang?” sapa seorang cowok
berseragam putih abu-abu yang turun dari motor untuk berteduh di halte tempat
cewek itu menunggu. “masih nungguin kakak. Sori siapa? Kok tau namaku?” jawab
cewek itu dengan sedikit menolehkan wajahnya ke arah cowok itu. “eh iya,
kenalin aku Kelvin Jonatan Saputra, kelas
12 IPA 1. Ya taulah, kamu Velizya anak baru di kelas 11 IPS 2 yang dari Jakarta
itu kan?” Tanya cowok tersebut dengan senyuman manis dan tentu saja sopan
sambil mengulurkan tangannya. Cewek bernama Veli itupun membalas uluran tangan
cowok tersebut dengan sedikit tersenyum. “Iya, kok tau sih? Jadi, aku harus
panggil kamu siapa?”. “ Siapa juga yang nggak tau kamu, satu sekolah juga uda
tau kamu kali. Panggil aja kelvin” jawab cowok tersebut dengan sedikit terkekeh
dan mengeluarkan senyum termanisnya. Ve bingung keheranan, bagaimana bisa siswi
baru seperti dia bisa langsung terkenal? Entahlah, yang jelas Ve tidak mau
memikirkannya sekarang. Ia masih fokus menunggu orang yang dari tadi ia tunggu.
***
Tiba dirumah, Ve langsung masuk kamar
tanpa menjawab sapaan dari mamanya yang sedari tadi menunggu anaknya pulang. Ve
kesal dengan kakaknya yang sudah telat menjemputnya di hari pertama ia sekolah,
yang membuatnya baru tiba dirumah pukul 16.30. Padahal sekolah sudah mengijinkan
seluruh siswanya untuk pulang pukul 14.00
Malam itu juga Ve tidak ikut makan malam
bersama keluarganya seperti biasa. Sepertinya ia sangat kelelahan dengan hari
pertamanya bersekolah disekolah baru yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya
dan tentu juga karena menunggu kakaknya. Ia bahkan mengunci pintu kamarnya
rapat-rapat agar tidak ada orang masuk dan mengajaknya untuk turun sekedar
berkumpul bersama keluarganya. Ve merenung seorang diri sambil melihat
diary-nya yang berisi foto dan catatan kejadian dimana ia masih bersama
sahabat-sahabatnya disekolahnya yang lama. Ia mengingat kembali semua kenangan
di sekolah tercintanya dulu bersama sahabat dan teman terbaik yang ia punya.
Seakan semua kenangan itu bermain seperti sinetron yang tidak ada hentinya
untuk di putar. “ Aku kangen kalian semua. Aku nggak mau disini” suara Ve
terdengar lirih saat ia membuka halaman yang berisi fotonya bersama semua teman
kelasnya dan wali kelasnya saat berada di Pulau Bali. Tak terasa juga air
matanya mulai menetes membasahi pipinya. “Kau begitu sempurna, dimataku kau
begitu indah. Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa dirimu” Ve menyanyikan sebait
lagu yang ada dalam diary-nya. Air matanya semakin menjadi-jadi. Bagaimana
tidak, bayangkan saja baru setahun ia melanjutkan sekolahnya di tingkat atas
bersama sahabat dan temannya dari SMP di Jakarta, ia harus pindah ke Bandung
untuk mengikuti ayahnya yang pindah tempat kerja demi kemajuan karir ayahnya.
Ia benar-benar tidak rela untuk pindah, tapi apa yang bisa ia perbuat? Hanya
menurut saja.
***
“Hai Veli selamat pagi” sapaan Clara
membuyarkan lamunan Ve yang sejak ia datang dikelas langsung melamun begitu
saja. “Eh hai, iya selamat pagi Clara” Ve menjawab sapaan teman sebangkunya itu
dengan seyuman yang dipaksakan. “Jadi bagaimana?”pertanyaan Clara membuat Ve
bingung. “Apanya yang bagaimana?”
“Bagaimana rasanya sekolah disini? Kamu sudah betah
atau merasa aneh ?”
“Oh itu, iyaa rasanya masih belum enjoy aja. Maklum
lah kan baru kemarin aku masuk”
“Kalau di banding sekolah kamu yang dulu, bagus mana?”
pertanyaan Clara yang ini membuat ia tercengang dan kembali teringat akan
sekolahnya yang dulu. Sesaat ia diam dan kemudian disadarkan oleh Clara. “Hei,
kamu kenapa vel? Ada yang salah sama pertanyaanku?” tanya Clara bingung. “eh
enggak kok ra, nggak papa” jawab Ve gugup. “Iya, jadi gimana? Sekolah kamu yang
dulu sama yang ini bagus mana?” kembali Clara menanyakan pertanyaan itu lagi,
tapi saat itu Ve sedang beruntung tiba-tiba guru yang akan
mengajarnya datang dan tentu saja ia tidak sempat menjawab pertanyaan Clara.
Bel istirahat berbunyi, dengan berat
hati Veli mengikuti Clara yang sebelum bel istirahat berbunyi sudah mengajaknya
untuk ke kantin bersama. Dengan langkah malas ia berjalan di samping Clara, dan
entah kenapa setiap ia berjalan banyak mata yang melihatnya seperti orang yang
ingin berkenalan dengan dia. “Hai veli, kenalan dong aku Valdo anak 12 IPS 2”
tiba-tiba seorang kakak kelas berdiri di depan Veli dan mengajaknya berkenalan.
Veli semakin bingung dengan semua anak di sekolah barunya itu. Tapi, sebelum
Veli menjawabnya Clara langsung menggandeng tangannya dan menariknya untuk
terus berjalan ke kantin. “Sori ya kak, Veli-nya uda lapar dia mau makan dulu.
Permisi” Veli hanya pasrah dan mengikuti Clara.
“Ve,mau pesen apa?”Tanya Clara lembut.
“Es teh aja ra”jawab Ve. “Yakin cuman itu aja?kita kan pulang siang banget,
nggak laper?”. “Enggak ra, uda biasa kok” jawab Ve lagi yang kali ini disertai
dengan senyum manisnya. Ve nampak tidak antusias saat berada dikantin, ia hanya
diam sambil memainkan sedotan es tehnya dan tentu saja menunggu Clara makan.
Terlihat mukanya yang lesu dan malas seperti sedang mendapatkan paksaan. ‘kalo
nggak di paksa sama Clara juga aku gabakalan mau’ batin Ve dalam hati. Bel
sekolah kembali berbunyi yang seakan menghentikan
kebahagiaan para siswa untuk beristirahat sejenak dari jenuhnya pelajaran.
Termasuk Ve dan Clara yang akhirnya masuk ke kelas mereka untuk mengikuti
pelajaran selanjutnya.
***
Hari ini adalah hari ketujuh Veli
bersekolah disekolah barunya. Ia masih tetap pendiam dan tidak bersemangat
untuk bersekolah. Banyak teman sekelas dan hampir satu sekolah mulai
membicarakan dia karna sikapnya yang aneh. Tapi Ve hanya diam dan cuek, ia tidak
pernah mau membagi tentang apa yang ia rasakan saat ini dan yang dinilai aneh
oleh semua temannya.
Kelvin kakak kelasnya yang pertama kali
ia temui mulai mengamati sikap Ve dari hari pertama, karena dari awal Kelvin tau kalau Ve sangat terpaksa
untuk bersekolah disini. Bahkan ketika Ve berada di perpustakaan untuk menemani
Clara pun diam-diam Kelvin mengamati gerak-geriknya. “Bener. Anak itu keliatan
terpaksa banget buat sekolah disini” kata Kelvin pelan saat salah satu aksinya
menjadi mata-mata dilakukan.
***
Sabtu ini, Ve sudah berencana untuk
menelepon sahabatnya yang ada di Jakarta sepulang sekolah nanti di taman
belakang sekolah yang terkesan sangat sepi. Ve sudah tidak tahan dengan ini
semua, ia sudah sangat rindu kepada semua sahabat dan temannya di jakarta. Dan
tak lain tujuannya ia telpon juga untuk mencurahkan apa yang ia rasakan tentang
sekolah barunya yang 180 derajat berbeda dengan sekolah mewahnya di Jakarta
dulu.
“Sepi banget ini taman. Beneran kayak
kuburan, padahal taman ini lumayan bagus meskipun masi tetep bagusan Taman di
sekolah dulu” kata Ve sendirian yang mulai mengambil tempat dimana ia bisa
berbicara tanpa di dengar oleh orang lain. Taman itu memang bagus, hanya ada 2
pasang bangku yang saling berjauhan dengan pemandangan bunga yang berjajar
dengan sangat cantik berneka macam dan warna.
“Halo Ara?”percakapan Ve dimulai saat teleponnya di
jawab oleh sahabatnya yang berada di Jakarta.
“Hai Veeee, apa kabar kamuu?Miss youu soooo baby”
teriak sahabatnya dari seberang telepon.
“Araaa miss youu moree beb. Like you know, i’m so bad
here”
“Iya aku tauu. Kamu sabar ya sayaang, cerita deh
gimana sekolahmu disana”
“jelas banget disini 360 derajat berbeda jauh dengan
di Jakarta. Banyangin deh, gedung sekolahnya aja uda
kusam. Kamar mandinya apa lagi duuh najong deh liatnya”
“duuuh kasiaan turut berduka cita ya Ve. Terus temen
kamu disana gimana?”
“apalagi itu. Beneran deh ya, disini tuh nggak ada
temen segokil kalian. Masa baru pertama sekolah mereka uda sok deket gitu deh
sama aku, terus yang cowok juga genit banget. Pokoknya ilfil banget deh”
akhirnya Ve bisa melepaskan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini. Ara
sahabatnya hanya bisa mendengarkan Ve berceloteh ria, ia tau apa yang menjadi
beban sahabatnya itu saat ia harus dipaksa untuk bersekolah yang kualitasnya
lebih rendah daripada sekolah sebelumnya.
“Aku beneran nggak kuat Ra kalo harus gini terus. Aku
nggak bisa sekolah karna terpaksa kayak gini, mending aku home schooling aja deh” Kata Ve penuh emosi yang hampir membuatnya
nangis.
“Udahlah Ve, terima aja keputusan orang tuamu. Mereka
pasti ingin yang terbaik buat anaknya, nikmati aja dulu. Toh disana nggak
semuanya buruk kan?” jawab Ara menenangkan Ve.
“Apa lagi Ra? Aku uda terlalu sabar, aku uda nggak
kuat beneran deh Ra. Culik aku aja deh Ra, bawa aku balik ke Jakarta. Aku nggak
mau disini” Ve nggak kuat menahan air matanya yang akhirnya meluncur membasahi
pipinya.
Tanpa disadari, seseorang sedang
mengamati dan mendengarkan percakapan Ve mulai dari awal sejak ia berada di
taman. Kelvin. Ia membuntuti Ve yang sejak pulang sekolah tadi Ve tidak
langsung pulang. Kelvin sangat jelas tau atas
apa yang di bicarakan Ve ditelepon, ia merasa bahwa Ve sudah menjelekkan nama
baik sekolahnya. Kelvin sangat tidak terima atas perkataan Ve di telepon,
segera dengan keberaniannya ia mengahampiri Ve yang masih sesenggukkan menangis.
Ve yang kaget akan kedatangan Kelvin,
langsung menutup teleponnya tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada
sahabatnya di Jakarta.
“Sejak kapan jadi penguntit?” Sindir Ve yang masih
memandangi handphone-nya.
“Sejak pertama kali ada anak baru dari Jakarta yang
songong dan sombong” Jawab Kelvin tanpa berbasa-basi. Ve kaget dan langsung
menoleh ke arah Kelvin.
“Maksud kamu?”
“Berlagak sok bego lagi. Udahlah jujur aja, kalo kamu
terpaksa sekolah disini mending kamu pindah aja deh” perkataan Kelvin kali ini
sangat membuat Ve sakit hati dan rasanya ingin menangis, tapi ia harus
menahannya karena gengsi.
“Dari dulu juga sebenernya nggak mau sekolah disini.
Papa aja yang maksa sekolah disini. Kenapa sih sewot aja”
“Yaiyalah. Secara sekolah ini tu sekolah paling
favorit di daerah sini, pake bilang kualitasnya rendahan lagi. Emang kamu
siapa?” emosi Kelvin mulai memuncak.
“Apasih kamu kak, biasa aja bisa kali ngomongnya.
Lagian kalo emang aku nggak suka sekolah disini masalah buat kak Kelvin?
Masalah juga buat masa depannya Kak Kelvin? Enggak kan” Ve juga ikutan emosi, tapi kali ini Kelvin
mulai mengalah dan menenangkan diri.
“Asal kamu tau aja Ve, sesuatu yang di lakuin dengan
cara terpaksa itu akan membuat keadaan sekitar semakin rumit. Kamu nggak akan
tau apa maksud dari semua persoalan yang terjadi”
“Kok jadi ceramah sih” Ve sinis tanpa melihat wajah
Kelvin, tapi Kelvin hanya menggelengkan kepala dan mencoba sabar untuk
menasihati Ve atas sikapnya selama ini.
“Terima apa yang sudah terjadi. Orang tuamu sudah
mencarikan yang terbaik untuk kamu, tinggal kamu aja yang harus menjalaninya
dengan ikhlas dan tentu saja jangan kecewekan mereka. Semua yang kamu inginkan
nggak mungkin dan nggak harus bisa terpenuhi kan?”
“Sotoy. Orang tuaku bisa kasih semua yang aku mau?”
“Kalau gitu kenapa kamu masih sekolah disini?”
pertanyaan Kelvin yang satu ini seketika membungkam mulut Ve yang tidak tau
harus menjawab apa.
“Udahlah, sekolah ini nggak seburuk yang kamu kira
kok. Cuman gimana cara kamu ngejalaninnya aja. Yang lalu biarlah berlalu
menjadi kenangan dan pelajaran. Hidup ini terus berjalan, kita nggak bisa
nge-stuck disini dan selalu melihat masa lalu tanpa membuat kemajuan dimasa
sekarang” Kali ini perkataan Kelvin membuat Ve menatap mukanya dan membuat
mereka saling beradu pandang dengan tatapan mata yang lekat dan dalam.
“Kalau kamu gini terus, bagaimana dengan masa depanmu?
Mulailah merubah sikap menjadi kamu yang dulu bersemangat saat bersekolah di
Jakarta. Lagian temen disini juga nggak kalah seru kok” timpal Kelvin sambil
mengeluarkan senyum manisnya yang selalu membuat cewek meleleh termasuk Ve yang
sedari tadi menatap wajahnya.
Kelvin berlalu meninggalkan Ve yang
masih tetap terpaku ditempat. Ve merasakan ada sesuatu yang
sedang menahan kakinya ssehingga ia merasa susah untuk beranjak pergi. Ia masih memikirkan
semua perkataan Kelvin, sampai handphone-nya berbunyi pertanda sms masuk yang
ternyata dari Kak Reno, kalau kakaknya sudah menunggunya dari tadi di depan
sekolah.
***
Minggu pagi yang cerah. Ve berniat pergi
ke toko buku pagi itu untuk membeli novel yang sudah sejak lama ia inginkan.
Semenjak kejadian sabtu kemarin di taman pulang sekolah, Ve semakin pendiam. Ia
masih memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Kelvin, meskipun tak semua
kalimatnya ia hafal. Tapi ia tau persis apa maksud Kelvin berbicara seperti
itu. Kelvin hanya ingin Ve merubah sikapnya yang selama ini terlalu meremehkan
sekolah barunya dan selalu membandingkan dengan sekolah lamanya. “terus aku
harus ngapain dong?” Ve berbicara sendiri saat membawa mobilnya keluar rumah
menuju gramedia yang ada di kota. “Masa aku harus minta maaf sama temen-temen?
Yang bener aja sih, malu kali” Ve semakin nggak karuan, pikirannya seolah di
hantui oleh perkataan Kelvin kemarin. Sampai akhirnya ia tiba di Gramedia dan
seakan ia lupa akan pikirannya tadi karena terlalu asyik mencari novel.
‘BRAKKK....’ terdengar suara buku yang
terjatuh dari tangan seorang pria yang membawa banyak buku ditangannya,
sehingga ia susah untuk mengendalikan tubuhnya yang akhirnya ia tidak sengaja
menjatuhkan bukunya. Ve yang lagi asyik membaca sinopsis novel langsung
terkaget dan menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan entah apa yang ia
pikirkan bak malaikat, Ve langsung berlari menghampiri pria tersebut dan
menolongnya. “Lain kali hati-hati ya mas, atau kalau perlu bantuan kan bisa
minta tolong pegawai disini” kata Ve menengadahkan mukanya kepada pemilik buku
itu sambil menyerahkan buku terakhir yang terjatuh, dan seketika ia kaget saat
ia tau siapa pemilik buku itu. “Kak Kelv...” kata Ve pelan. “Ve? Ngapain
disini?” Kelvin menjawab dengan penuh kebingungan. “lagi cari novel. Ini kak
bukunya, lain kali hati-hati ya” jawab Ve gugup sambil mencoba berlalu dari
hadapan Kelvin, karena entah mengapa ia merasa malu saat bertemu Kelvin.
“Ve, tunggu...” cegah Kelvin sambil menarik tangan Ve
yang hendak pergi.
“Eh, kenapa kak? Itu bukunya uda aku kembaliin kan?”
Ve semakin gugup dan bingung kala tangannya di pegang oleh Kelvin.
“Iya sudah kok, makasih ya. Eh sori yaa” jawab Kelvin
dengan senyum sambil melepaskan tangannya yang masih menggandeng tangan Ve.
“Oke, sama-sama kak. Sori aku pergi dulu”
“Eh Ve tunggu dong. Kamu mau bayar novel kamu kan?”
“Emm, iya kak. Kenapa?”
“Yaudah bareng aja yuuk” ajak Kelvin ramah, yang
seakan membuat Ve seperti tersambar petir di siang bolong. Bagaimana bisa
Kelvin yang kemarin membentaknya di taman dan nyaris membuat ia mati berdiri,
sekarang tanpa sengaja bertemu dengannya dan dengan perasaan yang malu
tiba-tiba mengajaknya untuk membayar bersama di kasir dengan ramahnya seperti
tidak ada masalah yang pernah terjadi diantara mereka.
“Tapi kak....”
“Sudah yuuk, uda berat ini bukunya” Tanpa berbasa-basi
Kelvin langsung mengajak Ve ke kasir, dan lagi-lagi Ve menurut saja.
***
“Sekarang aku nggak tau mau ngapain kak, aku
bener-bener bingung”
“Yaudah, pelan-pelan kamu harus merubah sikap kamu
terhadap temen-temen kamu. Ntar mereka pasti ngerti kok......”
Setelah membayar buku mereka
masing-masing, Kelvin mengajak Ve untuk beristirahat sejenak di cafe sebelah
gramedia itu. Mereka berbincang satu sama lain, yang akhirnya membuat Ve sadar
dan mau merubah sikapnya selama ini yang telah membuat orang lain menilai jelek
terhadap dirinya. Bahkan sebagai tanda ucapan terima kasih, Ve mau mengantarkan
Kelvin pulang dengan mobilnya dan mentraktir semua makanan yang telah mereka
pesan. “Makasih banget ya kak, gara-gara kak Kelvin aku jadi tau apa artinya
hidup ini” kata Ve saat mobilnya mulai keluar dari tempat parkir gramedia.
“Sama-sama Ve, aku juga seneng bisa ngebantu kamu membuka pikiran kamu selama
ini. Makasih juga uda mau repot nganterin plus bayarin makanan tadi, hehe”
jawab Kelvin malu sambil terkekeh.
Mobil Ve melaju dengan kecepatan normal,
sampai akhirnya ia berhenti di rumah sederhana berpagar coklat tapi terkesan
mewah karena desain rumahnya yang unik. “Rumah kak Kelvin bagus yah, sederhana
tapi kelihatan mewah karena desainnya yang keren” Puji Ve, saat ia keluar dari
mobilnya dan memandang rumah Kelvin dari luar. Kelvin tersipu malu akan pujian
Ve.
“haha biasa aja kok Ve, kamu aja yang
lebay”.
“Serius kak, ini desainnya keren banget”
puji Ve lagi, yang membuat Kelvin semakin salah tingkah karena pujiannya.
“Yaudah deh, kamu mau masuk dulu?” tawar
Kelvin kepada Ve yang masih terpesona melihat rumah Kelvin. “Emm, makasih deh
kak. Tapi lain kali aja yah, soalnya mama uda nungguin dirumah” jawab Ve menolak
ajakan Kelvin.
“Oh, oke lain waktu bisa kan?”
“Diusahakan deh. Sampai ketemu besok di
sekolah ya kak, byeeee” seru Ve sambil berlalu masuk ke dalam mobilnya dan
segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
***
Sudah hampir sebulan semenjak kejadian
sabtu dan minggu itu. Ve mulai berubah sikapnya dan tentu saja banyak siswa dan
guru yang menyukai perubahan itu, terutama Kelvin yang masih menjadi mata-mata
untuk mengamati perubahan Ve yang semakin hari semakin bertambah baik. Hingga
pada jam pulang sekolah ia mendapat sesuatu dari Clara.
“Ve, ini tadi ada titipan surat” kata
Clara saat mereka akan keluar dari kelas.
“Jaman gini masi ada surat?haha.. dari
siapa emang?” jawab Ve, sambil menerima surat tersebut. “Baca sendiri deh, ntar
juga tau haha” Clara sedikit tertawa sambil berlalu meninggalkan Ve, tapi ia
kembali lagi dan membisikkan sesuatu di telinga Ve.
“Oh iya, kalau uda jadian traktir makan
sepuasnya di kantin” bisik Clara tepat disamping telinga Ve, membuat Ve semakin
bingung dengan ini semua. Tapi clara membiarkan temannya kebingungan dan
meninggalkan begitu saja. Ve diam di depan kelas yang sudah sepi itu sambil
mulai membuka surat itu dan membacanya.
Perubahan yang luar biasa. Aku kagum
dan salut banget karena ternyata kamu mau mendengarkan nasihatku dan
melakukannya dengan sungguh-sungguh. Lihat keadaan sekarang, tak seburuk yang
kamu pikirkan saat itu kan? Bahkan lebih baik dari yang kamu kira. Jadi,
bagaimana dengan kehidupanmu yang dulu selalu kamu banggakan dan bandingkan
dengan keadaan saat kamu pindah disini? I think now is better than past,
right?:)
Nb:: segera bales surat ini saat kamu
uda selesai baca. Aku tunggu sepulang sekolah di taman belakang. Okey? SEGERA!!
Kelvin-
“Ha?Kak Kelvin? Sepulang sekolah?
Sekarang dong.” Ve kaget tidak percaya kalau Kelvin yang mengiriminya surat,
dan ia harus segera membalasnya karena Kelvin sudah menunggunya. Segera ia
mengeluarkan alat tulisnya dan selembar kertas, dengan cepat ia membalas surat
itu dan melipat rapi karena ia tidak mempunyai amplop yang bisa membungkusnya.
Benar saja, di taman itu Kelvin sudah duduk dengan santai sambil membaca komik
yang baru ia pinjam dari temannya.
Ve segera menghampiri dan memberikan
surat yang sudah ia tulis itu tanpa berbicara sepatah kata pun, hanya senyum
manisnya yang ia pancarkan. Kelvin menerima surat itu dan membalasnya dengan
senyuman juga. Mereka tak ubahnya Pangeran dan Cinderella yang baru pertama
ketemu, malu. Ve tersipu malu dan berlalu setelah memberikan surat itu, Kelvin
hanya diam dan tau apa maksud ini semua. Kelvin juga membiarkan Ve pergi begitu
saja. Setelah Ve pergi meninggalkannya, dan hanya ada ia sendiri di taman itu
Kelvin langsung membaca surat itu dengan antusias dan rasa penasaran.
Thank’s a lot for all Kak Kelv. Aku nggak tau
kelanjutan hidupku kalau aku masih sama seperti waktu pertama pindah disini,
mungkin aku nggak akan bisa menjadi leader dari tim cheerleader seperti
sekarang ini. Dan mungkin selamanya aku nggak akan bisa ngobrol dengan kakak.
Makasih uda mau repot menyadarkan aku dari semua ini.
Kalau saja aku masih memutuskan untuk menjadi
aku yang dulu, selamanya aku akan terjebak dalam kesalahanku sendiri. Bertemu
dengan kak Kelvin membuatku tau apa arti kehidupan. Semua drama kehidupan yang
membuatku tau bahwa kita nggak bisa melangkah dengan keadaan terpaksa, bahkan
dengan terpaksa malah membuat keadaan semakin kacau.
I’m
very proud of you kak Kelv. I don’t know what should i say anymore , just
thank’s and thaaaaank youuuu so mucch for all this time J
Nb:: kapan-kapan jalan bareng lagi bisa dong? Tanggal
17 bulan ini ada pameran buku murah lhoo :D tertarik untuk join? Segera hubungi
nomer ini J 089677612417
Velizya Sekar Angelina-
Kelvin tersenyum membaca surat dari Ve
yang ditulis dengan tulisan tangan yang sedikit nggak karuan karena
tergesa-gesa. “Nama yang bagus untuk cewek secantik Ve, siapa juga yang bisa
nolak ajakannya”
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar