Hi Vin,
Malam ini aku merindukan mu lagi.
Beberapa hari ini rasanya otakku berputar ke arah mu.
Entah, aku pun tak tahu apa maksudnya.
Apakah ada sesuatu yang terjadi padamu?
Ku harap kau tetap baik-baik saja.
Seperti ada gelombang yang aku tidak tahu apa namanya dalam hatiku ketika mengingat tentang dirimu.
Terdengar berlebihan, tapi ini faktanya.
Aku sendiri juga tidak pernah merasa lelah untuk selalu merindumu.
Berharap engkau datang dan menyapa ku kembali.
Paling tidak, berikan aku kabar tentangmu. Tentang keberadaan, dan jika mungkin alasan mengapa kau tiba-tiba menghilang.
Kau spesial, meskipun kita tidak pernah bertemu.
Kau aneh, selalu muncul di pikiranku dengan cara yang berbeda.
Kau lucu, membuatku tersenyum geli jika membaca sebutan yang kau kirimkan kepadaku beberapa tahun lalu.
Ya, beberapa tahun lalu.
Sudah lama ya Vin,
Tapi aku tetap tidak bisa lupa.
Apa menurutmu aku yang berlebihan?
Atau memang ada sesuatu yang Tuhan sedang sembunyikan dari kita?
Sekali lagi, aku mencoba mencari tahu apa maksud Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang aneh.
Aku sudah sering bertanya, tapi tidak pernah mendapat jawaban.
Pernah memang aku mencoba melupakan mu.
Tapi yang terjadi justru kau semakin kuat di dalam ingatanku.
Vin,
Kau tahu tidak, malam ini aku tidak bisa terpejam. Aku teringat sosokmu.
Sosok misterius yang tak pernah aku temukan tapi selalu terbayang.
Aku tidak tahu kegilaan ini akan berakhir kapan, atau mungkin tidak akan bisa berakhir.
Tapi satu yang perlu kau tahu, jika suatu saat kau hadir kembali, ketahuilah bahwa aku pernah selama ini menunggumu.
Hanya sekedar ingin tahu kabarmu saja. Tidak masalah jika kau menganggap ku gila, karena hatiku tak pernah salah.
Hatiku ingin berlari ke arahmu, tapi dia tidak tahu jalan mana yang seharusnya ia lewati.
Kadang hatiku tersesat, lalu kembali lagi ke titik awal pertemuan kita. Tak tahu kapan akan berakhir dititik akhir pertemuan kita.
Aku tidak gila Vin, bahkan aku masih bisa suka dan sayang dengan orang lain.
Tapi, siapapun dia. Ketika aku merasa kecewa dan sakit hati, aku selalu ingin menemui mu. Dengan harapan hanya kau yang mampu menenangkan ku.
Meskipun kenyataannya tidak pernah seperti demikian.
Aku ingin berhenti menulis tentangmu, tapi jari dan otakku masih berjalan terus memikirkan kata-kata yang cocok untukmu.
Berapa surat lagi yang harus ku tulis untuk bisa sampai dan mendapatkan balasan darimu?
Berapa detik, menit, jam, hari, bahkan tahun lagi yang harus aku lalui sendiri untuk mencarimu?
Jika pada akhirnya ternyata kau tak pernah nyata~
-Wen-
1:35
May 28, 2018