Rabu, 20 Desember 2017

Aku dan Impianku

It's a new life.
Masih belum tahun baru, tapi rasanya hidupku mulai berubah lagi.
Rutinitas yang baru, yang sepenuhnya aku belum menemukan kenyamanannya.
Kalau bukan karena aku kuliah dan ingin membantu ekonomi keluarga, mungkin aku tidak akan ada di tempat ini.
Paling tidak aku ingin mencobanya untuk beberapa bulan ke depan.
Menguatkan hati dan batinku sendiri.
Aku tahu, bekerja di kantor itu sangatlah monoton. Ya, hanya itu-itu saja.
Berbeda dengan pekerja lapangan, yang setiap hari memiliki cerita unik tersendiri.
Tapi, apapun itu, aku tidak mengeluh. Hanya ingin membagikan apa yang ku rasakan~
Bekerja dikantor tidak sepenuhnya bahagia. Apalagi untuk aku, manusia dengan sejuta rasa bosan dan suntuk.
Sejatinya, aku tidak bisa bekerja model begini. Tapi, karena tuntutan hidup aku harus mau melakukan dan menjalani ini. Paling tidak, ku lakukan untuk keluargaku.
Anehnya, semakin besar dan semakin dewasa diriku, bukan malah tambah mandiri, tetapi justru aku merasa semakin manja terhadap orang tuaku terlebih kepada mama.
Kapan terakhir kali kau di suap oleh ibumu?
Kalau aku, semalam. Ketika usia ku sudah 20 tahun 7 bulan 16 hari.
Entahlah, aku merasa sangat ingin dekat dengan mama. Meskipun kadang tak selalu sepikir, dan tak jarang juga untuk adu pendapat. Tapi, anak atau ibu mana yang bisa terpisahkan?
Setelah keluar dari tempat kerja yang pertama, sebulan penuh aku berada dirumah, menjadi pengangguran.
Setelah itu, aku mendapat pekerjaan baru yang jauh berbanding terbalik. Pekerjaan dengan berbagai macam peraturan yang sebetulnya bagus, tapi bagiku apapun peraturannya kalau memang cepat bosen yaa tidak akan lama~

Sometimes aku menyadari kalau sebenarnya aku tidak ada passion di dunia perkantoran, tapi aku memang mampu bekerja. Aku lebih suka bertemu dengan orang-orang baru, dan bekerja dengan tempat yang berbeda-beda, dan tidak terikat dengan banyaknya peraturan yang ada.

Ada berapa banyak orang yang terjebak dalam sebuah bangunan hanya untuk bisa bertahan hidup? Bekerja kantoran karena tuntutan hidup, meskipun mungkin keinginan mereka tidak bekerja di kantor.

Aku masih mencari jati diri, tentang apa yang benar-benar membuatku senang dan bahagia untuk menjalaninya. Memang tidak mudah, tapi dengan kekuatan doa dan penyerahan diri perlahan-lahan pasti akan ada jalan.

Syukuri apa yang terjadi dan apa yang ada saat ini, karena ketika bersyukur, aku merasa lebih bahagia dan lebih ikhlas :)


-Wen-
Aku dan impianku~

Kamis, 08 Juni 2017

Berbeda lagi~

Seharusnya aku bisa lebih memahami, jika sikap dan perasaan manusia bisa berubah begitu cepat.
Bisa-bisanya di pagi dan siang hari kau melontarkan kata-kata manismu, bahkan kau masih sempat mengucapkan kata rindu. Tetapi sore hingga malam hari, semua keadaan tak lagi sama. Kau hanya membalas pesanku dengan singkat, dan terkesan ala kadarnya. Bahkan aku tahu jika kau sudah tidak ingin membalasnya.
Mungkin kau sudah menemukan yang baru,
Mungkin kau sudah asyik dengan yang lain,
Mungkin kau sudah menemukan yang lebih cantik dari aku,
Mungkin kau sudah bosan denganku,
Atau mungkin kau sudah menyadari bahwa kita tak akan dan tak mungkin menyatu.
Setidaknya ini baru beberapa hari, belum terlambat bagiku untuk menyadari ini semua.
Menyadari bahwa kau memang seperti lelaki lainnya yang datang dengan bermilyar kata manis tapi itu hanya tulisan pesan semata. Tidak dengan hati mu ataupun otakmu yang akhirnya bisa menertawakanku sepuasnya. Kau berhasil~
Aku tahu, semuanya sudah berubah hanya dalam hitungan hari. Andai saja kemarin aku masih yakin bahwa kedatangan mu tidak akan lama, aku tidak akan seperti ini. Sayangnya, justru dalam hitungan beberapa jam kau mampu mengubah otak dan hatiku menjadi tidak sejalan lagi. Ku kira kau berbeda, tetapi tetap saja sama seperti yang lain.
Lalu sekarang, aku hanya bisa tersenyum sinis mengingat yang lalu. Mengapa aku sampai bisa terjebak dalam bualanmu? Mengapa aku bisa masuk dalam perangkap yang sama tapi milik pemburu yang berbeda? Sebodoh itu kah aku dalam hal percintaan?
Terserah apa kata mu, aku hanya ingin berdamai dengan diriku. Aku tidak ingin menyalahkan diriku sepenuhnya. Aku tidak mau membuat diriku semakin dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang membuatku merasa tak ingin lagi merasakan jatuh cinta.
Pergilah, bukankah kau yang menginginkannya? Aku akan segera berlari menjauh, karena aku tidak akan menolehmu dibelakang lagi. Kau, tetaplah berjalan santai dengan senyum penuh misteri mu itu. Tapi, jika aku boleh meminta. Bisakah kau tidak melakukan hal seperti ini lagi kepada wanita lainnya diluar sana? Karena ini begitu menyakitkan, apalagi jika mereka belum terbiasa. Jangan lakukan lagi, lebih baik kau langsung saja fokus ke satu tujuanmu dan jangan menoleh ke arah yang lainnya.
Dengan rasa ikhlas yang teramat dalam,
Laurensia. 9 Juni 2017
11:01

Rabu, 07 Juni 2017

Jalur yang berbeda

Kau tau, aku tidak pernah bangun pagi sebahagia tadi.
Begitu tau ada chat dari si dia yang membuatku tersenyum malu, dan tidak ingin memejamkan mata lagi hanya karena ingin chattingan dengannya. Padahal asli sebenernya masih ngantuk akibat kurangnya tidur.

Sayang? Suka?
Iyaaa, tapi sayangnya beda.
We're not in the same track. Itulah yang ku sedihkan. Yang membuat, sampe kapanpun tak akan bisa menyatu.
Lalu selama ini dan besok-besok apa dong artinya? Dia terlalu berharga, hanya semesta tidak mendukung~
Aku tidak tahu kemana hubungan ini akan berlanjut.
Jika aku melanggar batas, maka jelas aku akan salah dan disalahkan orang banyak.
Tapi aku juga tidak bisa bohong jika aku juga suka padanya.

Hariku berubah sejak itu, dia membuatku seolah aku wanita yang diperlakukan paling bahagia. Dan nyatanya aku memang merasakan itu. Membuatku tertawa sendiri, tersenyum sendiri, bahkan kesal tapi tidak bisa marah. Apakah aku jatuh cinta?

Aku tidak mau jatuh terlalu dalam, karena aku tau resikonya akan menyakitkan.
Tidak mudah mempersatukan hal yang berbeda ini. Agama sangatlah sensitif.
Tapi jika saling menyayangi, mengapa agama bisa memisahkan? Bukankah Tuhan tidak beragama?
Mengapa harus terpisah karena agama, jika percaya pada Tuhan yang sama?

Kau mempercayai adanya satu Tuhan, aku pun demikian.
Lalu apa yang menjadi masalahnya?
Entahlah, aku bingung dengan hal-hal ini.
Tunggu saja bagaimana kelanjutannya besok. Jika kami masih bertahan, maka cinta kami sangatlah kuat.~

-Laurensia-
June 8, 2017
11:59

Sabtu, 15 April 2017

Hearts wants what it wants ~

Kadang mereka melihatku sudah seperti mereka, padahal aku jauh dibawah mereka.
Anggap saja mereka orang tua dan aku masih bayi.
Berada di posisiku membuatku ingin lari jauh, tapi aku sadar jika aku masih dalam fase bayi yang hanya bisa merangkak.
Ada banyak hal yang membuatku sedih tapi harus ku sembunyikan dari mereka. Seringnya itu karena tingkah mereka sendiri.

Kau tidak bisa memberi makan seorang bayi dengan makanan orang dewasa, karena bukan pada porsinya. Tetapi jika kau memberinya makanan seperti itu setiap hari, bukankah sama saja kau akan membunuhnya?

Lalu bagaimana denganku?
Aku bingung harus berbuat seperti apa. Jika aku bisa berjalan sendiri, kau mengira aku sudah dewasa. Tapi jika aku masih merangkak dan membutuhkan bantuan, kau akan selalu meremehkanku karena aku masih kecil.
Lalu aku harus bagaimana?

Kau tidak bisa melakukan ini padaku.
Aku bukan manusia tanpa batas, yang bisa kau suruh berlari tanpa henti.
Aku lelah. Aku capek.
Sampai kapan kau mau melakukan hal kejam ini padaku.

Jika kau mengatakan ini adalah hal baik, kurasa hal baik yang ini tidak sungguh-sungguh baik nanti akhirnya.

Jika kau mengira aku mampu, lalu bagaimana jika ternyata aku tidak mampu? Apakah kau masih memaksaku untuk tetap bisa berdiri diatas kaki seorang bayi?

Pikirkanlah apa yang telah kau lakukan kepadaku. Pekalah dengan apa yang ku rasakan saat ini. Aku tidak mungkin mengatakan semua ini, karena terlalu banyak, melelahkan, dan menyakitkan.

-Laurensia-
15 April 2016
22:36